Selama
kira-kira setengah abad, tujuan utama kebijaksanaan perekonomian adalah untuk
meningkatkan pertumbuhan dalam mengejar pengembangan dan kebahagiaan dari
populasi. Akan tetapi, telah diamati bahwa karena meningkatnya
ketidakseimbangan, pertumbuhan saja rasanya bukanlah indikator yang dapat
diandalkan bagi pembangunan sosio-ekonomi.
Walaupun ada pertumbuhan di banyak
bagian di dunia ini, masih banyak orang yang menganggur, kekurangan makanan,
dan mendapat penganiayaan sebagai akibat dari kekuatan-kekuatan pasar yang
tidak dapat dihindari.
Model-model pertumbuhan negara yang mantap di teori
“titisan dari atas” (trikle-down) menunjukkan
secara meyakinkan bahwa hal itu meningkatkan ketidakseimbangan distribusi aset
dengan memungkinkan kelompok-kelompok yang lebih kuat dan beruntung tumbuh
dengan kecepatan yang bahkan lebih cepat dari pertumbuhan mereka sebelumnya,
serta meninggalkan masyarakat lainnya dalam penderitaan yang lebih dalam.
John Perkins,
dalam kata pengantarnya di buku Confessions
of an Economic Hitman, sembari menganalisis situasi dunia yang berbahaya,
menulis: “Gagasan bahwa semua pertumbuhan ekonomi bermanfaat bagi umat manusia
dan bahwa makin besar pertumbuhan itu, makin meluas pula manfaatnya,... tentu
saja salah.... Ia hanya bermanfaat bagi segelintir penduduk... mungkin
sesungguhnya mengakibatkan keputusasaan yang meningkat bagi mayoritas
penduduknya....
Ketika pria dan wanita diberi penghargaan atas ketamakan, maka
ketamakan akan menjadi motivator yang bersifat merusak.” Dia juga menunjukkan
permasalahan-permasalahan yang muncul sebagai akibat dari konsep-konsep yang
salah mengenai pengembangan perekonomian.
Beberapa
perekonomian yang baru muncul menunjukkan tingkat pertumbuhan yang mengesankan.
Akan tetapi, pertumbuhan perekonomian di bawah neoliberalisme tidaklah memenuhi
fungsi kesejahteraan; sebaliknya malah meningkatkan kemiskinan karena semua
manfaat yang ada tidak menitis ke bawah dengan sendirinya, dikarenakan semua
distorsi yang ada yang diciptakan oleh kepentingan pribadi di suatu pasar bebas
yang berfungsi tanpa adanya pengawasan, keterbukaan, dan transparansi yang
tepat sehingga, pada kenyataannya, memperkuat pola distribusi pendapatan yang
tidak simetris.
China, sebagai salah satu perekonomian yang berkembang paling
cepat dengan tingkat pertumbuhan mencapai dua angka, sedang mengalami
permasalahan sama. Kondisi masyarakat miskinnya yang berjumlah banyak itu,
khususnya di daerah pedesaan, semakin memburuk, walaupun sistem komunisme
sebelumnya menjamin beberapa kebutuhan pokok tertentu, termasuk makanan,
perawatan kesehatan, dan pendidikan dasar. Sistem pendukung ini gagal
dikarenakan adanya perpindahan ke suatu sistem perekonomian yang berdasarkan
pasar.
Dalam
kasus-kasus di mana kekayaan dan aset terkonsentrasikan dalam bisnis-bisnis dan
segmen-segmen industrial besar di daerah perkotaan serta daerah luar kotanya
bersifat feodal, bahkan dengan adanya tingkat pertumbuhan perekonomian yang
sangat tinggi dan sektor-sektor seperti industri serta pertanian, tidak akan
membawa pada distribusi pendapatan yang lebih baik dan pengentasan orang
miskin.
Seperti halnya yang ditunjukkan oleh pengalaman bahwa kemiskinan tidak
dapat berkurang bahkan dengan pembelanjaan pemerintah pada perawatan kesehatan,
pendidikan, atau infrastruktur, karena peralatan mendasar dari eksploitasi
masih terus bekerja dan pembelanjaan seperti itu tidak ditujukan pada pemenuhan
kebutuhan utama masyarakat luas.
Hasil reaksi dari kemiskinan skala besar
adalah rintangan terhadap investasi dan pertumbuhan industrial, karena
mengurangi permintaan konsumen atas barang-barang manufaktur dikarenakan
distribusi pendapatan yang tidak seimbang. Oleh sebab itu, haruslan ada
pendistribusia ulang yang bersifat revolusioner atas aset dan pendapatan,
sebelum stabilisasi, jika pertumbuhan yang dimaksudkan untuk mengurangi
ketidakseimbangan perdistribusian aset.
Ketidakseimbangan
yang mendalam dalam neraca pembayaran di negara-negara dengan perekonomian
berkembang serta kebutuhan atas pembiayaan seiring dengan ketidakseimbangan tersebut
telah menjadi perhatian serius bagi lingkaran kebijaksanaan global dan pasar
mogal. Hal ini akan memengaruhi keuangan eksternal dan komoditas di mana pasar
negara-negara perekonomian berkembang beroperasi.
Adanya penyesuaian yang
tiba-tiba dan tidak teratur pada nilai tukar valuta-valuta utama atau dalam
tingkat suku bunga akan mengganggu semua indikator ekonomi di
perekonomian-perekonomian tersebut. Hal ini tentunya akan memberikan dampat
serius bagi negara-negara berkembang.
Walaupun kenyataannya
adalah tidak adanya metode jalan pintas untuk meringankan beban individu yang
miskin dan bangsa-bangsa yang terlampau banyak berutang, para pembuat
kebijaksanaan harus membuat upaya-upaya konkret untuk mengubah dasar dan
prosedur mobilisasi dana, baik dari sumber-sumber internal maupun eksternal.
Solusi
ini terletak pada menggantikan modal tanpa risiko dengan modal berbasis risiko
terkait dan mengupayakan dalam memastikan sumber daya asing dalam bentuk investasi
langsung serta portofolio. Dana pinjaman biasanya dihabiskan dengan sia-sia dan
sangatlah penting untuk menggantikannya dengan aset serta investasi yang
berbasiskan risiko melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan proaktif jangka panjang
yang telah dipikirkan secara matang. Berlanjut ke: Aktivitas-aktivitas Kesejahteraan Sosial Pemerintah.
Read more ...