Pembahasan tentang ekonomi syariah dalam blog ini, diambil dari buku Understanding Islamic Finance karya Muhammad Ayub. Dalam bukunya, Muhammad Ayub memulai pembahasan tentang ekonomi syariah atau islamic finance dengan sebuah pendahuluan yang membuka mata kita tentang pentingnya penerapan sistem ekonomi syariah untuk kebaikan kehidupan manusia.
Skenario Ekonomi Dalam Kerangka Kerja Neoklasik
Sejak kegagalan sistem perekonomian Timur yang tersentralisasi di sekitar tahun 1980-an, upaya-upaya dari para ekonom, ahli, pembuat kebijaksanaan, dan pemerintah di dunia ini berfokus pada penguatan kekuatan-kekuatan pasar untuk mencapai pertumbuhan perekonomian yang optimal dan pengembangan yang dapat dipertahankan pada tingkatan nasional serta global. Meskipun demikian, walaupun ada sedkikit perkembangan, kekuatan-kekuatan pasar global mencaai keseimbangan dan pertumbuhan yang sewajarnya, tidak hanya pada tingkatan negara individual tapi juga secara regional di antara negara-negara berkembang dan sedang berkembang.
Sementara sistem kapitalis, yang dikukuhkan dalam Bretton Woods pada tahun 1944, membolehkan kebebasan bertindak kepada negara-negara kapitalis sehingga memungkinkan perusahaan dan para individu di dalamnya memaksimalkan keuntungan mereka dengan pertimbangan minimal atas aspek-aspek kemanusiaan, norma, dan etika, pasca sistem Bretton Woods yang berbasiskan penciptaan uang-uang yang berlebihan, khususnya mata uang USD, mengakibatkan “lautan” kemiskinan di dunia ini.
Komunisme adalah lawan kapitalisme sejauh terkait dengan kapitalisasi sumber daya, sementara kepemilikannya bersifat hipotetis dan kendalinya tersentralisasi. Dikarenakan perilaku tidak seimbang ekstremitasnya, ia harus berakhir setelah menyelesaikan siklus pendeknya yang kurang dari satu abad.
"Ketamakan" (pengejaran kekayaan yang tidak terkendali) menjadi slogan paling populer di antara individu dan khususnya dari dunia korporat serta membiarkan masyarakat lainnya tertindas. Uang yang diciptakan dari ketiadaan telah memperkuat mekanisme eksploitasi dan memperlebar jarak di antara yang kaya dan yang miskin. Skenario perekonomian hasil reaksi mengakibatkan hal-hal berikut kepada umat manusia:
Kapitalisme tidak memonopoli semua sumber daya secara langsung, tapi melalui beberapa media yang terdiversifikasi dengan tingkatan dan kendali distribusi yang berbeda, seperti perangkap besar. Karena adanya dukungan politik dan kelembagaan yang kuat pada tingkatan internasional, secara efektif memberikan hak veto pada kekuasaan besar atas aktivitas-aktivitas IMF dan Bank Dunia, neokapitalisme telah memakan siklus waktu yang lebih lama, tapi ketika semua batasan telah ditembus, ia bisa sewaktu-waktu runtuh, menimbulkan kerugian-kerugian besar pada perekonomian global.
"Ketamakan" (pengejaran kekayaan yang tidak terkendali) menjadi slogan paling populer di antara individu dan khususnya dari dunia korporat serta membiarkan masyarakat lainnya tertindas. Uang yang diciptakan dari ketiadaan telah memperkuat mekanisme eksploitasi dan memperlebar jarak di antara yang kaya dan yang miskin. Skenario perekonomian hasil reaksi mengakibatkan hal-hal berikut kepada umat manusia:
- Perilaku manusia yang hanya dituntun oleh kepentingan diri sendiri, tak ada perhatian terhadap aspek perilaku;
- Tidak adanya disiplin dalam penciptaan uang berkekuatan tinggi yang menuntun pada sistem pembayaran yang eksploitatif dan tidak adil serta kendali yang bersifat tidak legal atas sumber daya dari individu dan bangsa yang lebih lemah;
- Kebijaksanaan yang kontradiktifâmeninggalkan fungsi-fungsi krusial penyediaan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan dasar dari masyarakat luas kepada suatu pasar yang dicirikan oleh kekuatan-kekuatan seperti "kepentingan diri sendiri", liberalisasi dan deregulasi, atas nama pengurangan kemiskinan dan penekatan tingkat huruf, dan sebagainya--jelas-jelas bersifat kontradiktif;
- Tidak adanya atau disangsikannya perhatian atas hak dan martabat manusia;
- Tidak adanya kepedulian pada yang lemah dan pihak-pihak yang tertindas;
- Tidak adanya perhatian pada keadilan, kejujuran, dan kewajiban;
- Pihak yang berpengaruh dan elite mengeksploitasi yang lemah, yang menuntun pada fenomena pemuatan kekayaan yang terjadi bersamaan dengan fenomena kemiskinan dan kelaparan pada skala yang besar;
- Praktik-praktik tidak etis yang tak terelakkan seperti iklan yang memperdaya untuk memikat konsumen, yang mengakibatkan paket gaji yang besar bagi "ahli" pemasaran dan meninggalkan kontributor riil pada produksi nasional serta global dan konsumen di bawah kekuasaan kekuatan pasar.
'Dunia ini tidak dikendalikan dari atas sehingga kepentingan pribadi dan sosial bisa selalu bertepatan. Ia tidak tertata di bawah sini sehingga dalam praktiknya keduanya tidak bertepatan. Ia bukan kesimpulan yang tepat dari prinsip-prinsip perekonomian yang menerangkan bahwa kepentingan pribadi selalu beroperasi pula dalam kepentingan publik. Juga tidaklah benar bahwa kepentingan pribadi secara umum berkurang; seringnya individu yang bertindak secara terpisah guna mempromosikan tujuan mereka sendiri terlalu bebal atau terlalu lemah bahkan untuk mencapainya.'
Pendahuluan dari Muhammad Ayub dalam Understanding Islamic Finance tentang ekonomi syariah bersambung pada postingan berikutnya: sistem utang ekonomi konvensional
