Walaupun ada pertumbuhan di banyak bagian di dunia ini, masih banyak orang yang menganggur, kekurangan makanan, dan mendapat penganiayaan sebagai akibat dari kekuatan-kekuatan pasar yang tidak dapat dihindari.
Model-model pertumbuhan negara yang mantap di teori “titisan dari atas” (trikle-down) menunjukkan secara meyakinkan bahwa hal itu meningkatkan ketidakseimbangan distribusi aset dengan memungkinkan kelompok-kelompok yang lebih kuat dan beruntung tumbuh dengan kecepatan yang bahkan lebih cepat dari pertumbuhan mereka sebelumnya, serta meninggalkan masyarakat lainnya dalam penderitaan yang lebih dalam.
John Perkins,
dalam kata pengantarnya di buku Confessions
of an Economic Hitman, sembari menganalisis situasi dunia yang berbahaya,
menulis: “Gagasan bahwa semua pertumbuhan ekonomi bermanfaat bagi umat manusia
dan bahwa makin besar pertumbuhan itu, makin meluas pula manfaatnya,... tentu
saja salah.... Ia hanya bermanfaat bagi segelintir penduduk... mungkin
sesungguhnya mengakibatkan keputusasaan yang meningkat bagi mayoritas
penduduknya....
Ketika pria dan wanita diberi penghargaan atas ketamakan, maka ketamakan akan menjadi motivator yang bersifat merusak.” Dia juga menunjukkan permasalahan-permasalahan yang muncul sebagai akibat dari konsep-konsep yang salah mengenai pengembangan perekonomian.
Ketika pria dan wanita diberi penghargaan atas ketamakan, maka ketamakan akan menjadi motivator yang bersifat merusak.” Dia juga menunjukkan permasalahan-permasalahan yang muncul sebagai akibat dari konsep-konsep yang salah mengenai pengembangan perekonomian.
Beberapa
perekonomian yang baru muncul menunjukkan tingkat pertumbuhan yang mengesankan.
Akan tetapi, pertumbuhan perekonomian di bawah neoliberalisme tidaklah memenuhi
fungsi kesejahteraan; sebaliknya malah meningkatkan kemiskinan karena semua
manfaat yang ada tidak menitis ke bawah dengan sendirinya, dikarenakan semua
distorsi yang ada yang diciptakan oleh kepentingan pribadi di suatu pasar bebas
yang berfungsi tanpa adanya pengawasan, keterbukaan, dan transparansi yang
tepat sehingga, pada kenyataannya, memperkuat pola distribusi pendapatan yang
tidak simetris.
China, sebagai salah satu perekonomian yang berkembang paling cepat dengan tingkat pertumbuhan mencapai dua angka, sedang mengalami permasalahan sama. Kondisi masyarakat miskinnya yang berjumlah banyak itu, khususnya di daerah pedesaan, semakin memburuk, walaupun sistem komunisme sebelumnya menjamin beberapa kebutuhan pokok tertentu, termasuk makanan, perawatan kesehatan, dan pendidikan dasar. Sistem pendukung ini gagal dikarenakan adanya perpindahan ke suatu sistem perekonomian yang berdasarkan pasar.
China, sebagai salah satu perekonomian yang berkembang paling cepat dengan tingkat pertumbuhan mencapai dua angka, sedang mengalami permasalahan sama. Kondisi masyarakat miskinnya yang berjumlah banyak itu, khususnya di daerah pedesaan, semakin memburuk, walaupun sistem komunisme sebelumnya menjamin beberapa kebutuhan pokok tertentu, termasuk makanan, perawatan kesehatan, dan pendidikan dasar. Sistem pendukung ini gagal dikarenakan adanya perpindahan ke suatu sistem perekonomian yang berdasarkan pasar.
Dalam
kasus-kasus di mana kekayaan dan aset terkonsentrasikan dalam bisnis-bisnis dan
segmen-segmen industrial besar di daerah perkotaan serta daerah luar kotanya
bersifat feodal, bahkan dengan adanya tingkat pertumbuhan perekonomian yang
sangat tinggi dan sektor-sektor seperti industri serta pertanian, tidak akan
membawa pada distribusi pendapatan yang lebih baik dan pengentasan orang
miskin.
Seperti halnya yang ditunjukkan oleh pengalaman bahwa kemiskinan tidak dapat berkurang bahkan dengan pembelanjaan pemerintah pada perawatan kesehatan, pendidikan, atau infrastruktur, karena peralatan mendasar dari eksploitasi masih terus bekerja dan pembelanjaan seperti itu tidak ditujukan pada pemenuhan kebutuhan utama masyarakat luas.
Hasil reaksi dari kemiskinan skala besar adalah rintangan terhadap investasi dan pertumbuhan industrial, karena mengurangi permintaan konsumen atas barang-barang manufaktur dikarenakan distribusi pendapatan yang tidak seimbang. Oleh sebab itu, haruslan ada pendistribusia ulang yang bersifat revolusioner atas aset dan pendapatan, sebelum stabilisasi, jika pertumbuhan yang dimaksudkan untuk mengurangi ketidakseimbangan perdistribusian aset.
Seperti halnya yang ditunjukkan oleh pengalaman bahwa kemiskinan tidak dapat berkurang bahkan dengan pembelanjaan pemerintah pada perawatan kesehatan, pendidikan, atau infrastruktur, karena peralatan mendasar dari eksploitasi masih terus bekerja dan pembelanjaan seperti itu tidak ditujukan pada pemenuhan kebutuhan utama masyarakat luas.
Hasil reaksi dari kemiskinan skala besar adalah rintangan terhadap investasi dan pertumbuhan industrial, karena mengurangi permintaan konsumen atas barang-barang manufaktur dikarenakan distribusi pendapatan yang tidak seimbang. Oleh sebab itu, haruslan ada pendistribusia ulang yang bersifat revolusioner atas aset dan pendapatan, sebelum stabilisasi, jika pertumbuhan yang dimaksudkan untuk mengurangi ketidakseimbangan perdistribusian aset.
Ketidakseimbangan
yang mendalam dalam neraca pembayaran di negara-negara dengan perekonomian
berkembang serta kebutuhan atas pembiayaan seiring dengan ketidakseimbangan tersebut
telah menjadi perhatian serius bagi lingkaran kebijaksanaan global dan pasar
mogal. Hal ini akan memengaruhi keuangan eksternal dan komoditas di mana pasar
negara-negara perekonomian berkembang beroperasi.
Adanya penyesuaian yang tiba-tiba dan tidak teratur pada nilai tukar valuta-valuta utama atau dalam tingkat suku bunga akan mengganggu semua indikator ekonomi di perekonomian-perekonomian tersebut. Hal ini tentunya akan memberikan dampat serius bagi negara-negara berkembang.
Adanya penyesuaian yang tiba-tiba dan tidak teratur pada nilai tukar valuta-valuta utama atau dalam tingkat suku bunga akan mengganggu semua indikator ekonomi di perekonomian-perekonomian tersebut. Hal ini tentunya akan memberikan dampat serius bagi negara-negara berkembang.
Walaupun kenyataannya
adalah tidak adanya metode jalan pintas untuk meringankan beban individu yang
miskin dan bangsa-bangsa yang terlampau banyak berutang, para pembuat
kebijaksanaan harus membuat upaya-upaya konkret untuk mengubah dasar dan
prosedur mobilisasi dana, baik dari sumber-sumber internal maupun eksternal.
Solusi ini terletak pada menggantikan modal tanpa risiko dengan modal berbasis risiko terkait dan mengupayakan dalam memastikan sumber daya asing dalam bentuk investasi langsung serta portofolio. Dana pinjaman biasanya dihabiskan dengan sia-sia dan sangatlah penting untuk menggantikannya dengan aset serta investasi yang berbasiskan risiko melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan proaktif jangka panjang yang telah dipikirkan secara matang. Berlanjut ke: Aktivitas-aktivitas Kesejahteraan Sosial Pemerintah.
Solusi ini terletak pada menggantikan modal tanpa risiko dengan modal berbasis risiko terkait dan mengupayakan dalam memastikan sumber daya asing dalam bentuk investasi langsung serta portofolio. Dana pinjaman biasanya dihabiskan dengan sia-sia dan sangatlah penting untuk menggantikannya dengan aset serta investasi yang berbasiskan risiko melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan proaktif jangka panjang yang telah dipikirkan secara matang. Berlanjut ke: Aktivitas-aktivitas Kesejahteraan Sosial Pemerintah.
