Breaking News

Thursday, November 20, 2014

Arah Pertumbuhan Ekonomi Yang Tidak Tepat

http://www.ekonomisehat.com/
Selama kira-kira setengah abad, tujuan utama kebijaksanaan perekonomian adalah untuk meningkatkan pertumbuhan dalam mengejar pengembangan dan kebahagiaan dari populasi. Akan tetapi, telah diamati bahwa karena meningkatnya ketidakseimbangan, pertumbuhan saja rasanya bukanlah indikator yang dapat diandalkan bagi pembangunan sosio-ekonomi.

Walaupun ada pertumbuhan di banyak bagian di dunia ini, masih banyak orang yang menganggur, kekurangan makanan, dan mendapat penganiayaan sebagai akibat dari kekuatan-kekuatan pasar yang tidak dapat dihindari. 
Model-model pertumbuhan negara yang mantap di teori “titisan dari atas” (trikle-down) menunjukkan secara meyakinkan bahwa hal itu meningkatkan ketidakseimbangan distribusi aset dengan memungkinkan kelompok-kelompok yang lebih kuat dan beruntung tumbuh dengan kecepatan yang bahkan lebih cepat dari pertumbuhan mereka sebelumnya, serta meninggalkan masyarakat lainnya dalam penderitaan yang lebih dalam.


John Perkins, dalam kata pengantarnya di buku Confessions of an Economic Hitman, sembari menganalisis situasi dunia yang berbahaya, menulis: “Gagasan bahwa semua pertumbuhan ekonomi bermanfaat bagi umat manusia dan bahwa makin besar pertumbuhan itu, makin meluas pula manfaatnya,... tentu saja salah.... Ia hanya bermanfaat bagi segelintir penduduk... mungkin sesungguhnya mengakibatkan keputusasaan yang meningkat bagi mayoritas penduduknya.... 

Ketika pria dan wanita diberi penghargaan atas ketamakan, maka ketamakan akan menjadi motivator yang bersifat merusak.” Dia juga menunjukkan permasalahan-permasalahan yang muncul sebagai akibat dari konsep-konsep yang salah mengenai pengembangan perekonomian.

Beberapa perekonomian yang baru muncul menunjukkan tingkat pertumbuhan yang mengesankan. Akan tetapi, pertumbuhan perekonomian di bawah neoliberalisme tidaklah memenuhi fungsi kesejahteraan; sebaliknya malah meningkatkan kemiskinan karena semua manfaat yang ada tidak menitis ke bawah dengan sendirinya, dikarenakan semua distorsi yang ada yang diciptakan oleh kepentingan pribadi di suatu pasar bebas yang berfungsi tanpa adanya pengawasan, keterbukaan, dan transparansi yang tepat sehingga, pada kenyataannya, memperkuat pola distribusi pendapatan yang tidak simetris. 

China, sebagai salah satu perekonomian yang berkembang paling cepat dengan tingkat pertumbuhan mencapai dua angka, sedang mengalami permasalahan sama. Kondisi masyarakat miskinnya yang berjumlah banyak itu, khususnya di daerah pedesaan, semakin memburuk, walaupun sistem komunisme sebelumnya menjamin beberapa kebutuhan pokok tertentu, termasuk makanan, perawatan kesehatan, dan pendidikan dasar. Sistem pendukung ini gagal dikarenakan adanya perpindahan ke suatu sistem perekonomian yang berdasarkan pasar.

Dalam kasus-kasus di mana kekayaan dan aset terkonsentrasikan dalam bisnis-bisnis dan segmen-segmen industrial besar di daerah perkotaan serta daerah luar kotanya bersifat feodal, bahkan dengan adanya tingkat pertumbuhan perekonomian yang sangat tinggi dan sektor-sektor seperti industri serta pertanian, tidak akan membawa pada distribusi pendapatan yang lebih baik dan pengentasan orang miskin. 

Seperti halnya yang ditunjukkan oleh pengalaman bahwa kemiskinan tidak dapat berkurang bahkan dengan pembelanjaan pemerintah pada perawatan kesehatan, pendidikan, atau infrastruktur, karena peralatan mendasar dari eksploitasi masih terus bekerja dan pembelanjaan seperti itu tidak ditujukan pada pemenuhan kebutuhan utama masyarakat luas. 

Hasil reaksi dari kemiskinan skala besar adalah rintangan terhadap investasi dan pertumbuhan industrial, karena mengurangi permintaan konsumen atas barang-barang manufaktur dikarenakan distribusi pendapatan yang tidak seimbang. Oleh sebab itu, haruslan ada pendistribusia ulang yang bersifat revolusioner atas aset dan pendapatan, sebelum stabilisasi, jika pertumbuhan yang dimaksudkan untuk mengurangi ketidakseimbangan perdistribusian aset.

Ketidakseimbangan yang mendalam dalam neraca pembayaran di negara-negara dengan perekonomian berkembang serta kebutuhan atas pembiayaan seiring dengan ketidakseimbangan tersebut telah menjadi perhatian serius bagi lingkaran kebijaksanaan global dan pasar mogal. Hal ini akan memengaruhi keuangan eksternal dan komoditas di mana pasar negara-negara perekonomian berkembang beroperasi. 

Adanya penyesuaian yang tiba-tiba dan tidak teratur pada nilai tukar valuta-valuta utama atau dalam tingkat suku bunga akan mengganggu semua indikator ekonomi di perekonomian-perekonomian tersebut. Hal ini tentunya akan memberikan dampat serius bagi negara-negara berkembang.

Walaupun kenyataannya adalah tidak adanya metode jalan pintas untuk meringankan beban individu yang miskin dan bangsa-bangsa yang terlampau banyak berutang, para pembuat kebijaksanaan harus membuat upaya-upaya konkret untuk mengubah dasar dan prosedur mobilisasi dana, baik dari sumber-sumber internal maupun eksternal. 

Solusi ini terletak pada menggantikan modal tanpa risiko dengan modal berbasis risiko terkait dan mengupayakan dalam memastikan sumber daya asing dalam bentuk investasi langsung serta portofolio. Dana pinjaman biasanya dihabiskan dengan sia-sia dan sangatlah penting untuk menggantikannya dengan aset serta investasi yang berbasiskan risiko melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan proaktif jangka panjang yang telah dipikirkan secara matang. Berlanjut ke: Aktivitas-aktivitas Kesejahteraan Sosial Pemerintah.
Read more ...

Sunday, November 16, 2014

Eksploitasi Melalui Utang Konvensional

http://www.ekonomisehat.com/2014/11/utang-konvensional-suatu-cara-untuk.html
Ekonomi Syariah-Situasi suram seperti yang digambarkan itu tidaklah terbatas terhadap negara-negara miskin atau terbelakang di Afrika, Asia, dan daerah-daerah lain di plenet ini. Ketidakadilan menjadi tanda dan permasalahan paling serius yang dihadapi oleh umat manusia di semua kalangan masyarakat. 

Banyak sekali orang, hampir di semua perekonomian yang mulai berkembang, islami atau non-islami, dan bahkan yang telah maju dan industrialis, menghadapi nasib yang sama. Sistem finansial yang berbasiskan bunga merupakan halangan utama dalam pencapaian keadilan distributif. 
Ia menciptakan utang yang tidak dapat dibayarkan kembali-yang membuat sebagian orang bertambah kaya sedangkan yang lain menjadi lebih miskin dan tertindas.


Utang berlebihan dan turunannya adalah ciri-ciri yang mencolok dari mekanisme berbasiskan bunga: utang kemarin dapat dibayar kembali dengan mengambil lebih banyak utang hari ini. Ia tidak hanya menahan pertumbuhan perekonomian, tapi juga melumpuhkan upaya-upaya yang dilakukan oleh Bank Dunia, IMF, dan para pendonor lain yang bertujuan mengentaskan kemiskinan di negara-negara miskin. Ia juga mendistorsikan pembayaran karena perhatian akan penghasilan dan pendapatan yang adil dan sewajarnya disesuaikan dengan hanya sedikit pertimbangan. 

Tiada yang peduli siapa yang akan membayar utangnya: generasi mendatang yang manakahdan yang dari manakah? Perilaku seperti ini-penghindaran pembayaran utang yang sedang berjalan-tidak dapat diterima dalam agama mana pun. Dalam Syariah Islami, kewajiban utang dikenakan pertanggungjawaban yang ketat pada Hari Penentuan (akhirat) nanti. Sistem ekonomi syariah.

Permasalahan-permasalahan perekonomian di negara-negara yang belum berkembang (underdeveloped countries = UDCs) sebagian besar muncul dikarenakan akumulasi utang mereka yang berlebihan. Biaya yang timbul dalam bentuk bunga yang harus dibayar oleh pemerintah penerusnya melalui kenaikan tingkat suku bunga, pajak, dan biaya-biaya atas barang-barang konsumsi sarana dan prasarana. 

Guna membayar utang-utang tersebut, pemerintah menaikkan pajak tanpa menyediakan fasilitas sosio-ekonomi atau kompensasi apa pun. Penghasilan valuta asing mereka, termasuk di dalamnya hasil ekspor dan pengiriman uang dari tenaga kerja di luar negeri, juga termakan untuk pembayaran utang-utang tersebut.

Hal ini menuntun pada peningkatan bagian modal tanpa risiko, yang berhadapan dengan modal dan bisnis yang mengandung risiko, yang mengakibatkan kegagalan bisnis, pengangguran, dan akhirnya ketidakseimbangan penghasilan serta kekayaan yang sangat mencolok. Ia mengakibatkan hasil-hasil yang mebawa petaka dengan memperkuat kecenderungan akumulasi kekayaan pada sebagian orang bersamaan dengan kelaparan dan kemiskinan dalam skala besar. 

Pembelanjaan yang boros dan tidak produktif, baik yang dilakukan oleh individual maupun pemerintah, yang cenderung ditingkatkan oleh mekanisme yang berbasiskan bunga dan ketersediaan kredit yang mudah, mengakibatkan penurunan dalam tabungan, investasi riil, serta kesempatan penciptaan lapangan pekerjaan. 

Sistem ini, jika dikombinasikan dengan inflasi, menjadi suatu cara baru bagi ketidakstabilan perekonomian dan kekacauan. Hal ini memengaruhi kelas menengah dan bawah, yang secara bersama-sama merupakan proporsi mayoritas populasi, yang kemudian juga memengaruhi tingkat tabungan nasional, dan akhirnya membawa perekonomian ke dalam lingkaran setan kemiskinan serta ketidakadilan yang mencolok. Ekonomi syariah.
Ikuti kelanjutannya Pertumbuhan Pada Hakikatnya...
Read more ...

Thursday, November 13, 2014

Ekonomi Syariah: Pendahuluan

http://www.ekonomisehat.com/2014/11/ekonomi-syariah-pendahuluan.html
Pembahasan tentang ekonomi syariah dalam blog ini, diambil dari buku Understanding Islamic Finance karya Muhammad Ayub. Dalam bukunya, Muhammad Ayub memulai pembahasan tentang ekonomi syariah atau islamic finance dengan sebuah pendahuluan yang membuka mata kita tentang pentingnya penerapan sistem ekonomi syariah untuk kebaikan kehidupan manusia.

Skenario Ekonomi Dalam Kerangka Kerja Neoklasik
Sejak kegagalan sistem perekonomian Timur yang tersentralisasi di sekitar tahun 1980-an, upaya-upaya dari para ekonom, ahli, pembuat kebijaksanaan, dan pemerintah di dunia ini berfokus pada penguatan kekuatan-kekuatan pasar untuk mencapai pertumbuhan perekonomian yang optimal dan pengembangan yang dapat dipertahankan pada tingkatan nasional serta global. Meskipun demikian, walaupun ada sedkikit perkembangan, kekuatan-kekuatan pasar global mencaai keseimbangan dan pertumbuhan yang sewajarnya, tidak hanya pada tingkatan negara individual tapi juga secara regional di antara negara-negara berkembang dan sedang berkembang.

Sementara sistem kapitalis, yang dikukuhkan dalam Bretton Woods pada tahun 1944, membolehkan kebebasan bertindak kepada negara-negara kapitalis sehingga memungkinkan perusahaan dan para individu di dalamnya memaksimalkan keuntungan mereka dengan pertimbangan minimal atas aspek-aspek kemanusiaan, norma, dan etika, pasca sistem Bretton Woods yang berbasiskan penciptaan uang-uang yang berlebihan, khususnya mata uang USD, mengakibatkan “lautan” kemiskinan di dunia ini.

Komunisme adalah lawan kapitalisme sejauh terkait dengan kapitalisasi sumber daya, sementara kepemilikannya bersifat hipotetis dan kendalinya tersentralisasi. Dikarenakan perilaku tidak seimbang ekstremitasnya, ia harus berakhir setelah menyelesaikan siklus pendeknya yang kurang dari satu abad.


Kapitalisme tidak memonopoli semua sumber daya secara langsung, tapi melalui beberapa media yang terdiversifikasi dengan tingkatan dan kendali distribusi yang berbeda, seperti perangkap besar. Karena adanya dukungan politik dan kelembagaan yang kuat pada tingkatan internasional, secara efektif memberikan hak veto pada kekuasaan besar atas aktivitas-aktivitas IMF dan Bank Dunia, neokapitalisme telah memakan siklus waktu yang lebih lama, tapi ketika semua batasan telah ditembus, ia bisa sewaktu-waktu runtuh, menimbulkan kerugian-kerugian besar pada perekonomian global.


"€œKetamakan" (pengejaran kekayaan yang tidak terkendali) menjadi slogan paling populer di antara individu dan khususnya dari dunia korporat serta membiarkan masyarakat lainnya tertindas. Uang yang diciptakan dari ketiadaan telah memperkuat mekanisme eksploitasi dan memperlebar jarak di antara yang kaya dan yang miskin. Skenario perekonomian hasil reaksi mengakibatkan hal-hal berikut kepada umat manusia:
  • Perilaku manusia yang hanya dituntun oleh kepentingan diri sendiri, tak ada perhatian terhadap aspek perilaku;
  • Tidak adanya disiplin dalam penciptaan uang berkekuatan tinggi yang menuntun pada sistem pembayaran yang eksploitatif dan tidak adil serta kendali yang bersifat tidak legal atas sumber daya dari individu dan bangsa yang lebih lemah;
  • Kebijaksanaan yang kontradiktif—meninggalkan fungsi-fungsi krusial penyediaan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan dasar dari masyarakat luas kepada suatu pasar yang dicirikan oleh kekuatan-kekuatan seperti "kepentingan diri sendiri", liberalisasi dan deregulasi, atas nama pengurangan kemiskinan dan penekatan tingkat huruf, dan sebagainya--jelas-jelas bersifat kontradiktif;
  • Tidak adanya atau disangsikannya perhatian atas hak dan martabat manusia;
  • Tidak adanya kepedulian pada yang lemah dan pihak-pihak yang tertindas;
  •  Tidak adanya perhatian pada keadilan, kejujuran, dan kewajiban;

  • Pihak yang berpengaruh dan elite mengeksploitasi yang lemah, yang menuntun pada fenomena pemuatan kekayaan yang terjadi bersamaan dengan fenomena kemiskinan dan kelaparan pada skala yang besar;
  • Praktik-praktik tidak etis yang tak terelakkan seperti iklan yang memperdaya untuk memikat konsumen, yang mengakibatkan paket gaji yang besar bagi "ahli"€ pemasaran dan meninggalkan kontributor riil pada produksi nasional serta global dan konsumen di bawah kekuasaan kekuatan pasar.
Penerapan sistem ekonomi islam bebas dari ketidaka-dilan dan eksploitasi terhadap indovidu dan bangsa yang lemah. Kutipan dari Keynes berikut tentang keselarasan antara kepentingan pribadi dan sosial secara tepat menyimpulkan situasi aktual di dunia serta mendukung pandangan tadi:


'Dunia ini tidak dikendalikan dari atas sehingga kepentingan pribadi dan sosial bisa selalu bertepatan. Ia tidak tertata di bawah sini sehingga dalam praktiknya keduanya tidak bertepatan. Ia bukan kesimpulan yang tepat dari prinsip-prinsip perekonomian yang menerangkan bahwa kepentingan pribadi selalu beroperasi pula dalam kepentingan publik. Juga tidaklah benar bahwa kepentingan pribadi secara umum berkurang; seringnya individu yang bertindak secara terpisah guna mempromosikan tujuan mereka sendiri terlalu bebal atau terlalu lemah bahkan untuk mencapainya.'

Pendahuluan dari Muhammad Ayub dalam Understanding Islamic Finance tentang ekonomi syariah bersambung pada postingan berikutnya: sistem utang ekonomi konvensional
Read more ...
Designed By ekonomisehat.com